Setelah beberapa minggu absen ke bioskop, kemarin akhirnya punya kesempatan keluar dengan seorang teman, untuk sight seeing dan melihat-lihat apa yang diputar di bioskop sekarang ini. ada beberapa film -patut disesali- yang sepertinya terlewat dalam beberapa bulan belakangan. Dan tampilan teaser bioskop berupa seseorang diatas kepala Sphinx -yang ternyata adalah Hayden Christensen si Anakin Skywalker itu- dengan kursi malas dan papan seluncur, tentunya menarik perhatian.

Well, saya selalu tertarik dengan Mesir dan segala kemewahannya, padang pasir, piramid dan segala misteri mengapa Mesir bisa menjadi Mesir yang kita kenal dalam buku-buku sejarah. Tapi sepertinya film yang saya tonton ini tidak akan memuaskan ketertarikan saya itu. Setelah membaca plotnya sepertinya Sphinx hanya ditampilkan sebagai gimmick untuk menggambarkan kemungkinan yang tak terperikan bila anda punya kemampuan seperti yang ada dalam tokoh di film ini.
Film ini dimulai dengan seorang anak muda lima belas tahun, di suatu sub-urban kota dimana suatu keajaiban sangat sedikit mungkin terjadi. Plot khas Hollywood tentang seorang cowok biasa-biasa saja yang menaruh perhatian terhadap seorang gadis cantik di sekolahnya. Tentunya remaja ini di gambarkan sangat biasa saja, sehingga si gadis pun hanya menaruh perhatian sekilas, plot seperti ini biasanya menambahi dengan klise ada remaja lain yang mungkin jagoan di sekolah itu, yang akan menggodanya, menganiaya si remaja di depan gadis itu.
Demikian juga film ini, ketika si laki-laki mencoba memberikan si gadis sebuah bola kaca berisi miniatur menara Eiffel (anda akan tahu mengapa remaja ini berbuat seperti itu nanti kalau anda menonton filmnya), remaja jagoan di sekolah itu merebutnya dan melempar ke tengah sungai yang membeku. Demikianlah cerita dimulai, sungai beku itu terlalu rapuh untuk menyangga seorang di atasnya, sehingga ketika remaja ini berjalan mengambil bola itu entah karena bodoh atau digambarkan demikian karena jatuh cinta, terperosoklah ia. Ke dalam sungai dingin membeku karena es, dan hampir mati beku kehabisan napas, jika ia tidak tiba-tiba saja muncul dengan tiba-tiba penuh kekacauan di dalam perpustakaan (sekolah?). Lengkap dengan air dingin dan tubuh basah.
semula saya berpikir ini menarik, dan orisinal idenya. Tapi kemudian berpikir ah tidak juga, berpindah tempat melewati ruang? bukankah terjadi juga di Michael J. Fox – Back to the Future? atau Scott Bakula – Quantum Leap ? ohh tidak.. dalam film-film itu mereka melompat ke masa lalu atau masa depan. Di Film ini tidak, lompatan hanya terjadi pada saat ini, dia hanya melewati ruang dan bukan waktu. Tapi kalau dia melompat dari Bali ke Jakarta atau ke Eropa
dalam waktu yang sama bukankah melompati waktu juga? paling tidak beberapa jam dimuka? Tidak. Sepertinya tidak perlu dipikirkan kesana. Saya mencoba menikmati yang disodorkan Layar. Menunggu penjelasan pseudo-ilmiah yang mungkin diberikan sutradara dan penulis naskah. tapi dari sepanjang film kecuali disebutkan tentang wormhole sekilas tak ada lagi hal lain disebutkan. Saya tak mau membahas wormhole disini, anda bisa mencarinya di literatur atau buku dengan tulisan Hawking di sampulnya. Itu adalah sebuah hipotesis tentang sebuah objek jauh dilangit sana. Mengapa ada di alam dunia seperti di film ini, saya juga menunggu penjelasan. tapi sepertinya tidak ada.
dan film melaju cepat, si tokoh punya ide untuk kabur dari rumah, meninggalkan orang tuanya, si gadis yang dicintainya, lalu mendapat ide masuk ke lemari deposit bank, mengambil uang dan keliling dunia. Well ada digambarkan masa-masa dia berlatih melompat dari satu titik ke titik yang lain, dengan kegagalannya. sekilas.
lalu ada gambaran tentang dia di Maui, New York, London, Mesir, dimanapun tempat di dunia ini manusia bisa berpijak, dia akan bisa datangi, hanya dengan memejamkan mata dan konsentrasi. Seperti biasanya film, tentu ada tokoh antagonis, Samuel L. Jackson memeraninya. Dikatakan bahwa Jumper seperti sang tokoh sudah ada dari jaman abad pertengahan, dan ada kaum di dunia ini yang dinamakan Paladin, yang mengejar-ngejar mereka -karena ternyata banyak sekali orang yang memiliki kemampuan seperti itu di dunia ini-. Tidak diberitahukan mengapa, dan bagaimana mulanya, yang jelas Paladin mengejar Jumper untuk dibunuh. What?! ya katanya, mereka Jumper itu cenderung menjadi jahat, dan berlaku kriminal. Hingga tidak perlu ada di dunia ini, karena hanya Tuhan lah yang seharusnya punya kekuatan untuk berada di dua tempat. hanya itu? sepertinya memang si Paladin terlalu membesar-besarkan masalah.
Konflik tercipta, Jumper lain muncul sayang nya cuma satu yang dibahas detail, dan sepertinya Jumper yang satu ini sudah banyak makan garam, dan berpengalaman, rebelious, dan buronan Samuel l. Jackson dalam waktu yang lama. Tidak ada pertempuran antara yang baik dan jahat saya kira, hanya pertempuran untuk bertahan hidup, untuk suatu alasan yang kurang jelas dan tidak masuk akal. Saya tidak akan memberitahu endingnya.
bukan sesuatu yang baru sepertinya, tapi entah mengapa, gabungan antara gambar bagus, akting Hayden dan Samuel, serta efek-efek yang semula saya pikir orisinil ternyata membuat kita terhibur di kursi bioskop. saya sudah ingin memberi nilai 7 untuk masalah memberi hiburan buat kita, namun kemudian berniat memberikan 8 untuk spesial efek ketika dia melompat. namun ketika teringat di film X-man ada tokoh antagonis yang punya kemampuan serupa dandigambarkan dengan efek yang mirip. Saya kembali memberi angka 7. tidak ada yang orisinil ternyata.

—
anyway teman menonton saya cantik hari itu, acara hari ini memang untuk dirinya setelah terkurung dua minggu untuk suatu sakit..ah tidak biar anda menebak kenapa. Mudah-mudahan menghibur dirinya dan menghapus kesia-siaan dua minggu hanya menatap bantal dan langit-langit. Kami mengakhiri hari dengan toko buku dan makan restauran italia murahan. Makasih ya dear, for wonderful evening..