
Beberapa usaha dan penantian atas nama cinta baru lama terbalas. Ini terjadi di GP Italia di Monza kemarin. Sebuah tim kecil, yang dulu selalu terseok-seok di urutan belakang, dengan budget minimum dan personil terbatas, tapi dengan kecintaan yang meluap-luap akan balapan. Cinta meeka kemarin terbayar, dengan cara yang sempurna dan indah. Pole position – memenangi Grandprix – di tanah kelahiran mereka.
Tim itu Toro Rosso, yang sebelumnya adalah Minardi. Mungkin aku agak-agak melebih-lebihkan, dan kalian bisa mengatakan bahwa itu tim yang berbeda. Whatever, tapi yang jelas taste dari tim ini tak berubah banyak. Tidak seperti tim lain yang begitu diakuisisi akan terjadi perubahan besar. Tim ini tidak, Minardi di akuisisi Red Bull di tahun 2006, setelah 20 tahun malang melintang susah payah di grid. Dieter Mateschitz, pemilik Red Bull membelinya dan mengubah nama tim ini menjadi Toro Rosso, Kerbau Merah dalam bahasa Italia. Usaha-usaha dengan mem-petisikan agar nama Minardi tetap di pertahankan tidak berhasil.
Walaupun demikian, patut diingat hanya nama dan uang saja yang sedikit berubah. Tim ini masih bermarkas di Faenza – Italia, berselera Italia, dan banyak diawaki oleh kru-kru yang lokal Italia. DNA tim ini masih Minardi. Sebagian besar dari 168 pegawai Toro Rosso adalah mereka yang bekerja di Minardi dulu. Itulah mengapa kupikir ketika Vettel berhasil juara di GP Italia kali ini, aku cenderung melihat adalah tim Minardi yang juara. Jadi kita bicara Minardi saja ketimbang Toro Rosso. Sentimentil? .. Like i care :)
Minardi memulai perjalanannya, tahun 1985 dengan hanya satu pembalap, di GrandPrix Brazil. Pierlugi Martini, yang start sebanyak 15 kali dari 16 GrandPrix namun hanya tiga kali finish, sisanya retired. Mesin Ford DFV 8 silinder yang digunakan terlalu kecil output powernya. Selama awal tahun 90an hingga pertengahan 90an mereka sempat mengecap kesuksesan dengan bersaing di papan tengah. Papan tengah saja lho, tidak pernah naik keatas
. Anyway, posisi kedua di US GrandPrix 1990, dan memimpin selama satu lap di GrandPrix Portugis 1989 mungkin bisa dijadikan highlight di karir mereka. Posisi terbaik di GrandPrix? finish ke empat, dua kali oleh Martini dan satu kali oleh Fittipaldi. Patut diingat sepanjang karir tim ini, bukan mobil buatan mereka yang payah, tetapi ketidakmampuan membeli mesin yang baguslah yang membuat tim ini selalu di urutan buncit. Seperti kita tahu, dalam kondisi seperti ini sponsorlah yang harusnya bisa menolong. Tetapi untuk mendapatkan sponsor bagus, mereka harus punya prestasi bagus, dan tanpa mesin bagus tak ada prestasi bagus. Seperti lingkaran setan
. Ini yang terjadi di pertengahan tahun 90an hingga akhirnya mereka di beli oleh Red Bull.
Minardi biasa mempekerjakan pembalap lokal Italia dan Amerika Latin, yang baru memulai karir. Pierlugi Martini menjadi pembalap paling terkenal di tim ini. Tiga kali dia bergabung dengan Minardi dengan kesuksesan yang berbeda-beda.
Banyak pembalap-pembalap tenar lahir dari tim ini. Kebanyakan dari Italia, alumni-alumni yang terkenal adalah diantaranya Pedro Lamy , Luca Badoer , Giancarlo Fisichella , Jarno Trulli, Marc Gene, Mark Webber, Justin Wilson, Christian Fittipaldi dan tentunya Fernando Alonso. Sepanjang pertengahan 90an hingga akhirnya di beli Red Bull, Minardi tidak pernah bisa kembali ke performa sebelumnya. Kekurangan dana, dan minimnya fasilitas membuat tim ini hanya bisa membeli mesin-mesin buruk seperti Ford Zetec yang sudah berusia dua tahun. Akibatnya jelas, terlalu sering dalam satu musim Minardi tak memperoleh satu angka sekalipun (1996,1997,1998) atau satu poin (1999) di lomba penuh kejutan GP Eropa. Tapi mereka tetap bertahan, dengan budget sekitar 450 miliar per musim, dan karyawan cuma seperempat jumlah karyawan Ferrari, mereka tetap datang ke lomba.
Sponsor datang biasanya dari perusahaan-perusahan Italia yang kecil yang ingin tahu atmosfir F1. Jadi kalau kita berkunjung ke Minardi kita akan ketemu kebanyakan orang Italia, mulai dari tamu dari sponsor hingga mekanik tim. Kekeluargaannya kental, Chief Mekanik Gabrielle Tredozi berkata ”..Saya sudah di Minardi sejak 1988. Sudah seperti keluarga. kalau Minardi berhenti dari F1. saya juga akan berhenti, saya tak berminat bekerja dengan tim lain..” suatu ucapan yang dibuktikannya hingga akhir tahun 2006. Suatu tim yang dicintai banyak orang, dikarenakan mudahnya terjalin keakraban, dan mudahnya mendapatkan akses ke mereka.
Kecintaan akan balaplah yang membuat Minardi bertahan, ketika nama tim berganti dari Minardi ke Toro Rosso, dalam hati mereka terus percaya bahwa mereka akan ke podium suatu saat nanti. Toro Rosso adalah tim B milik Red Bull, yang dibuat agar pembalap-pembalap muda bimbingan Red Bull dapat mencicipi bagaimana aroma F1 sebelum terjun ke tim utama Red Bull Racing. Tapi di tahun ini, dengan mesin Ferrari dan kerja yang efisien dibawah bimbingan Gerhard Berger mereka mampu membuat tim lain menoleh. Hanya perlu suatu kesempatan, di suatu GrandP yang tidak biasa untuk membuat mereka tampil kedepan.
… dan itu terjadi di minggu kemarin. Seperti sebuah kisah dongeng. Bila kita datang ke Monza untuk GrandPrix Italia, yang terjadi adalah sinar matahari di sepanjang akhir minggu. Tetapi tidak kali ini, Tuhan memberikan hujan sebagai bumbunya. Di Formula 1, tingkat ketegangan akan selalu bertambah seiring jumlah air yang terlibat. Apakah itu hujan rintik-rintik yang datang dan pergi atau hujan lebat sekalipun, efeknya akan sama. Kita akan kesulitan menebak siapa yang akan keluar sebagai juara. Resep GrandPrix yang seru? Just Add Water.
Sebastian Vettel sudah mendominasi sejak Kualifikasi, dimana nama2 besar tercecer dan bersusah payah masuk tahapan ketiga kualifikasi. Toro Rosso dan Kompatriotnya dengan mudah berada di jajaran depan di Kualifikasi kedua. Kimi dan Lewis? posisi empat belas dan lima belas. Beruntung Felipe Massa dan Heikki Kovailanen berhasil lolos untuk menyelamatkan muka tim besar . Ini berlanjut di lomba.
Karena alasan keamanan start dilakukan dibawah bimbingan Safety Car, karena tikungan pertama Monza adalah sumber utama tabrakan dan dalam kondisi trek basah akan menjadi semakin ruwet keadaannya. Vettel mendapat keuntungan dari kondisi ini karena dia bisa mengontrol mobil-mobil dibelakangnya hingga garis start dan finish. Keuntungan kedua dalam kondisi hujan, mereka yang didepan akan mendapat keuntungan karena tak akan ada cipratan dari mobil yang didepannya. Ini yang terjadi, dalam satu lap, Vettel bisa meninggalkan Heikki di posisi dua hingga enam detik. Di wawancara, dia bilang “… kami emang tidak mengubah setting mobil kami menjadi medium downforce lantaran hujan, settingan mobil kami tetap low downforce.., itulah mengapa kami bloody fast di trek lurus..” . Pit mereka juga sempurna di lap 19 dengan ban basah, dan ketika ramalan hujan akan turun lebih deras, mereka tetap memilih intermediate di lap 36 (karena hampir semua tim memilih intermediete). Kalau saja mereka mengikuti ramalan cuaca dan memilih ban basah. Pasti akan ke laut hasilnya. Setelah pit stop kedua mereka, tak banyak yang bisa diceritakan. Kecepatannya tak berubah, dan tak ada satu insiden sekalipun yang mungkin mengganggu lombanya. ini yang dikatakannya ketika di wawancara , gak usah di translate deh biar artinya gak berubah banyak.. “ “Sometimes I was thinking ‘it still says P1 on my pit board, how can that be?’ and I knew there were no more pit stops to do,” ..
dan bendera kotak-kotak dikibarkan. garis finish dilewati, sejarah tercipta. sebuah tim Italia menjuarai GrandPrix Italia, dan itu bukan Ferrari. Luar biasa.
Sebastian Vettel berusia 21 Tahun 74 hari, saat itu.